Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
AMSAL 23: 22 Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua.
Ada seorang wanita tua yang lemah fisiknya. Ia seorang janda. Ia tinggal menumpang di rumah anaknya laki-laki. Anaknya ini sudah mempunyai isteri dan seorang anak perempuan yang masih kecil. Hari demi hai berlalu, keadaan wanita ini semakin lemah dimakan usia. Penglihatan dan pendengaraannya pun semakin berkurang. Kadang-kadang pada saat makan, ke dua tangannya gemetaran, sehingga tidak jarang sendok atau garpunya jatuh, bahkan piring makannya pun jatuh dan pecah. Anak dan menantunya jengkel melihat cara wanita tua itu makan, tetapi tidak mau menolongnya.
Pada suatu hari, setelah wanita tua itu menjatuhkan piring lagi, mereka saling berkata satu kepada yang lain ”Saya sudah tidak sabar melihat ibu seperti itu,” kata isterinya, ”Saya juga tidak mengerti bagaimana caranya memberi tahu dia,” sahut suaminya. Kemudian mereka mempunyai ide, yaitu menyediakan piring-piring kertas untuk tempat makan wanita tua itu. Setiap kali makan, wanita tua itu duduk memandang dengan mata kosong sambil mengeluarkan air mata. Kadang-kadang anak laki-laki dan menantunya berbicara kepadanya sementara ia makan, tetapi biasanya hanya untuk mengomelinya karena ia telah menjatuhkan sendok, garpu atau piringnya. ”Jangan menjatuhkannya lagi ya, makan saya jadi tidak enak,” demikian suara yang sering terdengar di telinga wanita tua itu.
Suatu malam, anak laki-laki dan isterinya serta anak mereka mendatangi sebuah resepsi pernikahan. Setelah beberapa acara dinikmati, tibalah saatnya untuk makan. Di situ disediakan piring-piring kertas untuk tempat buah-buahan atau kue. Beberapa saat kemudian terlihat gadis kecil anak mereka mengumpulkan piring-piring kertas bekas yang diletakkan sembarangan oleh para tamu undangan.
Orang tuanya dengan agak kesal bertanya, ”Apa yang sedang kamu lakukan?” ”Aku sedang mengumpulkan piring-piring kertas ini untuk bapak dan ibu, kalau nanti aku sudah besar, supaya tidak ada lagi piring-piring yang pecah” jelas gadis kecil itu.
Ke dua orang tuanya memandangi gadis kecil mereka selama beberapa waktu, lalu menangis.
Malam itu mereka cepat-cepat pulang untuk menemui ibu mereka dan memohon ampun dan maaf karena sikap mereka yang tidak bak selama ini. Sejak saat itu mereka melayani ibunya dengan kasih dan tidak lagi memberi piring kertas untunya ketika makan.
Menghormati orang tua adalah ketetapan Allah. Jika Anda masih memiliki orang tua, entah itu bapak atau ibu, hormati, hargai dan rawatlah supaya Anda diberkati.
Jika Anda tidak mempunyai orang tua lagi, perhatikan kehidupan orang-orang yang sudah tua dan tidak berdaya, terutama janda-janda di lingkungan Anda, dan Allah akan memperhatikan kehidupan Anda.
Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. (Ulangan 5:16)
sumber : http://gmimtiberiaskiniar.blogspot.com Continue Reading
Dibutuhkan kekuatan untuk meyakini sesuatu,
Dibutuhkan keberanian untuk memiliki keraguan.
Dibutuhkan kekuatan untuk menyesuaikan diri,
Dibutuhkan keberanian untuk tampil beda.
Dibutuhkan keberanian untuk tampil beda.
Dibutuhkan kekuatan untuk merasakan kepedihan seorang teman,
Dibutuhkan keberanian untuk merasakan pedihan Anda sendiri.
Dibutuhkan keberanian untuk merasakan pedihan Anda sendiri.
Dibutuhkan kekuatan untuk menyembunyikan kepedihan Anda sendiri,
Dibutuhkan keberanian untuk menunjukkannya pada orang lain.
Dibutuhkan keberanian untuk menunjukkannya pada orang lain.
Dibutuhkan kekuatan untuk waspada,
Dibutuhkan keberanian untuk menurunkan kewaspadaan Anda.
Dibutuhkan keberanian untuk menurunkan kewaspadaan Anda.
Dibutuhkan kekuatan untuk menaklukan,
Dibutuhkan keberanian untuk menyerah.
Dibutuhkan keberanian untuk menyerah.
Dibutuhkan kekuatan untuk bersabar menerima penghinaan,
Dibutuhkan keberanian untuk menghentikan mereka.
Dibutuhkan keberanian untuk menghentikan mereka.
Dibutuhkan kekuatan untuk berdiri sendiri,
Dibutuhkan keberanian untuk bersandar pada seorang teman.
Dibutuhkan keberanian untuk bersandar pada seorang teman.
Dibutuhkan kekuatan untuk mencintai,
Dibutuhkan keberanian untuk dicintai.
Dibutuhkan keberanian untuk dicintai.
Dibutuhkan kekuatan untuk bertahan hidup,
Dibutuhkan keberanian untuk menjalani hidup.
Dibutuhkan keberanian untuk menjalani hidup.
Oleh David L. Griffith (Hak Cipta 1998)
Anda membutuhkan baik kekuatan maupun keberanian untuk menjalani kehidupan ini, namun Anda butuh kebijaksanaan untuk menentukan kapan harus menggunakan keberanian dan kapan harus menggunakan kekuatan. Jika tidak, keduanya bisa berdampak negatif bagi kehidupan Anda.
Amsal 8:12-14
Aku, hikmat, tinggal bersama-sama dengan kecerdasan, dan aku mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan. Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat. Padaku ada nasihat dan pertimbangan, akulah pengertian, padakulah kekuatan.
Inspirationalarchive.com
Continue Reading
Ada dua ekor serigala di hutan belantara, serigala B menantang serigala A untuk menangkap seekor kelinci yang sedang makan wortel, tidak jauh dari tempat mereka berdiri,
"Ayo Serigala A, kamu bisa ngga tangkap kelinci itu?" tanya serigala B.
"Ayo Serigala A, kamu bisa ngga tangkap kelinci itu?" tanya serigala B.
"Ah, itu gampang, lihat saja nih!" jawab serigala A dan dengan sigap serigala A itupun melompat ke arah kelinci tersebut dan berlari mengejarnya.
Sedangkan kelinci yang melihat serigala itu, langsung lari terbirit-birit ketakutan, tanpa pikir panjang wortel yang masih dikunyahnya di lemparkan ke arah serigala tersebut, "DUAAAKK!!" begitu suaranya.
Karena serigala adalah binatang yang kuat, maka wortel kecil yang mengenai kepalanya tidak terasa sama sekali, serigala tersebut tetap mengejar kelinci itu, 1 menit.. 2 menit.. 3 menit... sampai 5 menit..
Serigala itu belum dapat menangkap kelinci itu, karena kelinci itu larinya lebih kencang. Serigala itupun kelelahan dan menghentikan pengejarannya.
Dengan perasaan yang sangat malu, dia menunduk berjalan dan kembali ke temannya serigala B.
Setelah sampai di tempat serigala B, maka serigala B itupun bertanya, "Bagaimana? Apakah kamu bisa menangkapnya ?" tanya serigala B, lalu serigala A hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih tertunduk.
Serigala B lalu melanjutkan perkataanya, "Kamu tahu, kenapa kamu tidak bisa menangkap kelinci itu? Kamu kalah, karena kamu tidak serius. Kamu berlari mengejar kelinci hanya untuk pamer saja, sedangkan kelinci itu berlari untuk nyawanya."
Untuk orang yang sudah bekerja, mungkin Anda merasa, Anda sangat lelah, Anda capai dengan pekerjaan, bosan, tidak ada kemajuan sama sekali dalam pekerjaan Anda. Itu dikarenakan karena Anda tidak serius dengan pekerjaan Anda.
Cobalah pikirkan kembali, apakah tujuan sebenarnya Anda bekerja?
Sebab, terkadang ada orang yang bekerja, karena tuntutan orang tua agar mencari uang sendiri, atau kadang juga ada orang yang bekerja, karena mereka merasa 'harus' bekerja untuk membantu orang tua mereka menghidupi keluarganya, atau ada juga orang yang bekerja karena untuk dapat pamer pada teman-temannya, pada sanak saudara, bahwa dia sudah bekerja.
Jadi, apakah tujuan Anda bekerja? Demi rasa bangga pada serigala B.
Atau demi rasa lapar?
Continue Reading
Jadi, apakah tujuan Anda bekerja? Demi rasa bangga pada serigala B.
Atau demi rasa lapar?
Langganan:
Postingan (Atom)
Desain By. Martin Limbonk Allo. Diberdayakan oleh Blogger.


